Bahasa

IndonesiaEnglish

Masuk

Pra-analitik Kerap Terlewat, Padahal Sumber Risiko Terbesar Laboratorium

Sebagian besar kesalahan laboratorium terjadi sebelum sampel masuk ke analyzer. Pahami cakupan fase pra-analitik, dampak klinisnya, dan panduan kendali mutu yang praktis, selaras dengan ISO 15189 serta praktik pengambilan dan transport sampel yang baik.

Pra-analitik Masih Jadi Sumber Error Terbesar, Tapi Jarang Dibahas

Banyak laboratorium berinvestasi besar pada analyzer, reagen, kalibrasi, IQC, dan EQA. Itu memang penting, tetapi mayoritas kegagalan bukan berasal dari area tersebut. Berbagai tinjauan dan studi secara konsisten menunjukkan bahwa fase pra-analitik adalah bagian yang paling rentan error dalam keseluruhan proses pemeriksaan, dan sering dilaporkan menyumbang sekitar 60 persen hingga 70 persen dari kesalahan laboratorium.

Alasan topik ini tetap jarang dibahas cukup jelas. Sebagian besar aktivitas pra-analitik terjadi di luar analyzer, bahkan sering berada di luar kendali langsung laboratorium, misalnya di ruang perawatan, klinik, titik pengambilan darah, hingga proses pengiriman sampel oleh kurir. Kepemilikan proses yang “tersebar” ini justru menjadi alasan kuat mengapa sistem mutu pra-analitik harus diperkuat, bukan dilemahkan.

Apa Saja yang Termasuk Fase Pra-analitik

Pra-analitik bukan cuma venipuncture. Definisi praktisnya adalah seluruh rangkaian proses sejak pemeriksaan dipertimbangkan dan diminta, lalu persiapan pasien serta identifikasi, pengambilan spesimen, pelabelan, penanganan, penyimpanan, dan transport, sampai sampel benar-benar siap masuk ke tahap analitik (siap dianalisis di analyzer). Ini penting untuk SEO karena banyak “kesalahan laboratorium” berakar dari proses pra-analitik, bukan dari alatnya.

ISO 15189 menegaskan hal ini secara eksplisit. Standar ini mewajibkan laboratorium memiliki prosedur untuk seluruh proses pra-pemeriksaan (pre-examination) dan memastikan proses tersebut terkendali, karena pra-analitik dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.

Untuk pengambilan dan transport spesimen, ISO 20658 menjadi rujukan praktiknya. ISO 20658 menetapkan persyaratan dan rekomendasi praktik baik untuk koleksi dan transport sampel pemeriksaan laboratorium, mencakup berbagai skenario layanan seperti pasien rawat inap, rawat jalan, pengambilan di rumah, klinik, hingga titik layanan bergerak.

Article image

Titik Gagal yang Membuat Analyzer Bagus, Hasil Tetap Salah

Berikut adalah klaster risiko pra-analitik yang paling sering terjadi dan alasan mengapa dampaknya besar pada kimia klinik.

1) Persiapan pasien dan timing pemeriksaan
Kondisi pasien sebelum pengambilan darah sangat memengaruhi hasil. Tidak puasa saat diperlukan, perubahan posisi tubuh, aktivitas fisik, konsumsi alkohol, hingga perbedaan waktu pengambilan dapat menggeser nilai pemeriksaan bahkan sebelum darah diambil. Ini menciptakan bias “senyap” yang tidak akan terdeteksi oleh kendali mutu (QC) di dalam analyzer.

2) Identifikasi dan pelabelan
Kesalahan pasien atau label adalah kegagalan dengan tingkat keparahan tinggi. Hasil pemeriksaan bisa saja benar secara analitik, tetapi berbahaya secara klinis karena diterapkan pada pasien yang salah.

3) Teknik pengambilan dan manajemen tabung
Kesalahan teknis seperti tabung dengan aditif yang salah, volume kurang (underfilling), pencampuran yang buruk, pemasangan torniket terlalu lama, atau kontaminasi antar tabung dapat menyebabkan bias hasil. Bahkan prosedur dasar seperti urutan pengambilan tabung (order of draw) dibuat untuk menurunkan risiko carryover aditif yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.

4) Penanganan, sentrifugasi, penyimpanan, dan transport
Keterlambatan, perubahan suhu saat pengiriman, getaran, atau pemisahan serum/plasma yang tidak tepat dapat merusak analit atau meningkatkan interferensi. Hemolisis adalah masalah pra-analitik yang sering terjadi dan dapat menyebabkan bias pada analit tertentu atau memicu pengambilan ulang sampel yang sebenarnya bisa dicegah dengan kontrol pra-analitik yang baik.

Dampak Klinis, Saat Error Pra-analitik Berubah Jadi Keputusan yang Keliru

Salah kaprah yang paling sering terjadi adalah: “Kalau QC analyzer aman, berarti hasil pasti aman.” Itu tidak benar.
 Sampel yang kualitasnya kurang baik tetap dapat menghasilkan nilai yang bias, meskipun:

  • kalibrasi valid

  • IQC lulus

  • reagen bekerja sesuai spesifikasi

Angka yang bias ini kemudian ikut “mengalir” ke tahap interpretasi, triase, perubahan terapi, dan keputusan pemeriksaan lanjutan. Karena itu, banyak penulis menempatkan pra-analitik sebagai isu keselamatan pasien, bukan sekadar soal “kerapian proses laboratorium”.

Article image

Quality control laboratorium bukan urusan alat saja, pra-analitik justru paling menentukan

Kalau Anda ingin error turun, berhenti memperlakukan pra-analitik sebagai “sekali training beres” dan mulai memperlakukannya sebagai sistem yang bisa diukur, diaudit, dan diperbaiki.
ISO 15189 jelas menuntut proses pra-pemeriksaan (pre-examination) yang terdokumentasi dan terkendali karena proses ini memengaruhi hasil pemeriksaan, termasuk instruksi pengambilan sampel dan penyimpanan pra-pemeriksaan.

ISO 15189 jelas menuntut proses pra-pemeriksaan (pre-examination) yang terdokumentasi dan terkendali karena proses ini memengaruhi hasil pemeriksaan, termasuk instruksi pengambilan sampel dan penyimpanan pra-pemeriksaan.

Di sisi praktik lapangan, EFLM Working Group for the Preanalytical Phase (WG-PRE) juga menerbitkan panduan konsensus tentang cara memenuhi persyaratan pra-analitik dalam ISO 15189.

Selain itu, untuk pengambilan dan transport sampel, ISO 20658 memberikan persyaratan dan rekomendasi praktik baik untuk berbagai skenario layanan, dan ruang lingkupnya mencakup permintaan pemeriksaan, persiapan pasien, identifikasi, pengambilan, hingga transport.

Playbook QC Pra-analitik yang praktis untuk laboratorium nyata

1) Tetapkan kepemilikan proses dan batas SOP
Pra-analitik “pecah kepemilikan” itu normal. Yang tidak boleh adalah SOP-nya abu-abu. Tetapkan dengan tegas:

  • Siapa pemilik instruksi persiapan pasien (puasa, jam pengambilan, aktivitas, obat, posisi tubuh)

  • Siapa pemilik kompetensi flebotomi dan audit teknik

  • Siapa pemilik kondisi transport (suhu, waktu maksimum, proteksi getaran) dan kriteria penerimaan sampel

Targetnya simpel: tidak ada celah “bukan bagian saya”.

2) Standarkan “minimum viable SOP set” yang wajib ada dan bisa diaudit
Buat paket SOP minimal yang jelas, singkat, dan bisa diperiksa buktinya, mencakup:

  • Identifikasi pasien dan pelabelan (termasuk titik verifikasi ganda)

  • Pemilihan tabung dan order of draw untuk menekan risiko carryover aditif

  • Aturan mixing, clotting time, sentrifugasi, dan kriteria pemisahan

  • Suhu penyimpanan dan batas waktu transport maksimum

  • Aturan reject, aturan komentar hasil, dan pemicu recollection

Prinsipnya: SOP harus bisa dipakai oleh unit pengambil sampel, bukan hanya “dokumen untuk akreditasi”.

3) Ukur kualitas pakai indikator, jangan menebak
Mulai dari dashboard kecil yang realistis dijalankan setiap bulan:

  • Mislabeling rate per 1.000 sampel

  • Sample rejection rate per alasan (hemolisis, beku, volume kurang, tabung salah, kontaminasi)

  • Hemolysis rate atau distribusi hemolysis index (kalau analyzer mendukung)

  • “Not received” atau sampel terlambat

  • Recollection rate dalam 24–48 jam sebagai proksi kegagalan pra-analitik

Contoh paling “cepat terasa” adalah hemolisis. Banyak lab bisa naik level dari penilaian visual yang subjektif ke pendekatan terstandar, termasuk indeks otomatis bila tersedia.

4) Tutup loop dengan intervensi yang spesifik, bukan imbauan umum
Jangan “ingatkan semua orang lebih hati-hati”. Itu tidak mengubah sistem.

  • Kalau hemolisis naik di IGD, benahi teknik pengambilan dan transport, bukan setting kimia kliniknya

  • Kalau mislabel sering terjadi di shift malam, benahi alur kerja dan titik double-check, bukan sekadar “briefing ulang”

Intervensi harus menarget titik gagal yang terukur dari indikator.

5) Perlakukan kompetensi sebagai proses berulang
Micro-competency yang rutin akan mengalahkan training tahunan yang cepat dilupakan:

  • Audit singkat berkala untuk teknik venipunktur, mixing, volume, dan pelabelan

  • Feedback cepat berbasis data indikator per unit, bukan perasaan

  • Refresh singkat saat ada pergantian staf, alat, tabung, atau vendor transport

Conclusion

Kesalahan pra-analitik masih dominan dalam error laboratorium karena fase ini melibatkan banyak titik proses, banyak petugas, dan sering tidak dipantau dengan indikator mutu yang jelas. Perbaikannya sederhana: susun SOP berbasis ISO 15189, ukur hemolisis, rejection rate, dan mislabeling, lalu fokuskan continuous improvement pada sumber masalah. Pendekatan hulu ke hilir membuat hasil pemeriksaan lebih dapat direproduksi dan meningkatkan keselamatan pasien.

References

Lippi, G. (2011). Preanalytical quality improvement: from dream to reality. Clinical Chemistry and Laboratory Medicine.

International Organization for Standardization. (2022). ISO 15189:2022 Medical laboratories Requirements for quality and competence.

International Organization for Standardization. (2017). ISO/TS 20658:2017 Medical laboratories Requirements for collection, transport, receipt, and handling of samples.

Vermeersch, P., et al. (2021). How to meet ISO 15189:2012 pre-analytical requirements in clinical laboratories: A consensus document by the EFLM WG-PRE. Clinical Chemistry and Laboratory Medicine.

Cornes, M., et al. (2017). Order of blood draw: Opinion Paper by the EFLM Working Group for the Preanalytical Phase (WG-PRE). Clinical Chemistry and Laboratory Medicine.

Lippi, G., et al. (2018). Practical recommendations for managing hemolyzed samples in clinical laboratories (EFLM WG-PRE). Clinical Chemistry and Laboratory Medicine.

Šimundić, A. M. (2010). Hemolysis detection and management of hemolyzed specimens. Biochemia Medica.

Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). (2019). Order of Blood Draw Tubes and Additives (guidance article).

Kami senang membantu Anda!

Alamat

Jl. Kyai Caringin No. 18-A RT 10/RW 4. Cideng, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Telepon

Layanan Pelanggan +62 817-887-060

Telemarketing +62 811-712-906

call to action